Surat Terbuka Untuk Kepala LAPAN – Pembuktian Saintifik Kebohongan Bumi Bola

Surat Terbuka Untuk Kepala LAPAN – Pembuktian Saintifik Kebohongan Bumi Bola
##People Power#
#Flat_Earth

Yth. Bapak Thomas DjamaluddinProfesor Riset Astronomi – Astrofisika
Kepala LAPAN

Dengan hormat,
Menanggapi berbagai pernyataan dan tulisan Bapak yang secara frontal terbuka di blog pribadi Bapak [1] dan di media massa online [2], yang pada intinya Bapak mengatakan bahwa paham Bumi Datar (Flat Earth/”FE”) adalah dongeng khayalan, maka dengan ini kami menyampaikan hal-hal sebagai berikut :
1. TENTANG KAMI

Kami adalah rakyat sekaligus warga negara sipil yang tergabung dalam forum diskusi fe101.freeforums.net. Kami bukanlah sebuah institusi resmi dan tidak mencari keuntungan dari publikasi-publikasi tentang Bumi Datar. Semua iklan yang ada di karya-karya video kami di Youtube, maupun di forum diskusi tersebut, di monetized oleh providers dan para pemegang hak cipta lagu yang kami pergunakan. Sengaja kami, menggunakan free web sites dengan pertimbangan sustainability, agar seluruh karya dan tulisan kami tetap ada meski kami semua sudah tiada.
2. KEBOHONGAN GLOBAL
Seperti yang telah dijelaskan dalam serial video kami di Youtube Channel www.youtube.com/c/flatearth1010, kami mempublikasikan Flat Earth karena kami sadar adanya sistem multidimensi yang zalim di seluruh dunia yang – tanpa disadari banyak orang – dibuat oleh Elite Global untuk memperkaya mereka dengan memiskinkan umat manusia lain di dunia. Sistem global multidimensi yang membuat 1% penduduk lebih kaya dari 99% penduduk dunia lainnya, seperti yang diberitakan oleh media BBC News [3] dan Fortune [4].
Bertolak belakang dengan persepsi kebanyakan orang yang menganggap Amerika Serikat, Jepang, Inggris, Jerman, dan lain-lain sebagai “negara-negara kaya”, kami justru sadar bahwa mereka adalah negara-negara pengutang terbesar di dunia, seperti terlihat pada tabel berikut :​
Pertanyaannya adalah hutang kepada siapa? Siapa yang lebih kaya dari negara-negara maju, sehingga bisa memberi hutang kepada negara-negara maju? Dunia ternyata tak seperti apa yang diajarkan dibangku-bangku sekolah.
Bertolak belakang dengan persepsi kebanyakan orang bahwa US Dollar adalah mata uang yang paling stabil dan terpercaya, kami justru sadar bahwa US Dollar dicetak oleh bank Sentral Swasta yakni Federal Reserve, yang nilainya terus merosot karena tidak diback up oleh emas.​
Lebih dari itu, kami sadar bahwa dalam beberapa tahun ke depan semua mata uang di dunia akan terus dibuat anjlok, berbagai krisis ekonomi dan politik akan terus diciptakan, agar semua orang di dunia akhirnya “berteriak” meminta mata uang tunggal dunia, yang dicetak oleh para bankster Elite Global.​
(sudah mulai dipublikasikan media)
3. MATERI PENDIDIKAN
Bertolak belakang dengan materi pendidikan dibangku-bangku sekolah di seluruh dunia yang didesain untuk mempropagandakan terlaksananya sistem seperti “Globalisasi“, “Pasar Bebas” dan sejenisnya, kami justru sadar bahwa itu adalah sistem yang zalim, dibuat untuk memperkaya segelintir Elite Global dengan memiskinkan umat manusia lain di dunia.
Contoh konkretnya, sistem tersebut telah membuat Indonesia kasih hutang pada pemerintahan-pemerintahan asing dan pengusaha-pengusaha Elite Global yang kaya raya, dua kali lebih banyak dari Rupiah yang diedarkan pada rakyatnya sendiri, dalam mekanisme “Surat Berharga Asing” yang diajarkan oleh para profesor di perguruan tinggi di seluruh dunia [5].​
(sumber : Laporan Tahunan BI 2015. Data hutang dari countrymeters.info/en/Indonesia/economy)
Kami tidak menyalahkan pemerintah, para bankir, ekonom, akademisi, dan lain-lain. Karena semua hanya ikut sistem multidimensi yang diterapkan di seluruh dunia. Semua orang bekerja tanpa sadar untuk kepentingan Elite Global.
Demikian halnya dengan pelajaran tentang bentuk Bumi. Semua orang merasa bahwa Bumi diam tak bergerak. Permukaan air tak pernah melengkung. Tapi semua orang diajarkan sejak kecil bahwa Bumi berbentuk Bola, berotasi dengan kecepatan 1,670 km/h, mengelilingi matahari dengan kecepatan 108,000 km/jam.​
Supaya tampak logis, maka diajarkan teori gravitasi bahwa “Bumi punya gaya tarik” sehingga semuanya tampak diam tak bergerak. Dibangku-bangku sekolah bahkan tidak mengajarkan esensi Relativitas Albert Einstein bahwa sebenarnya Isaac Newton keliru soal Bumi tak punya gaya hisap [6].
“Sains modern” sengaja membiarkan orang terjebak dalam miskonsepsi gravitasi seolah “batu bisa menarik daging” atau “batu menghisap samudera yang terbalik sehingga airnya tidak tumpah setetes pun”.​
Rujukan sentral yang menjadi “sumber kebenaran” adalah foto-foto CGI (Computer Generated Imagery ~ gambar rekayasa komputer) dan animasi-animasi video yang diterbitkan oleh NASA beserta aliansinya, bagian dari Elite Global.
4. METODA SAINTIFIK
Pembuktian secara saintifik bukanlah dengan foto-foto dan berteori berdasarkan opini dan asumsi, melainkan dengan pengukuran dan eksperimen [7]. Kuantitatif, bukan kualitatif-normatif.
Dibangku-bangku sekolah mengajarkan pada kita bahwa matahari itu besar, 400 kali lebih besar dari bulan. Tapi jaraknya 400 kali lebih jauh, sehingga secara “kebetulan kosmik” bisa pas saling menutupi ketika terjadi gerhana matahari. Silakan buktikan teori tersebut dengan eksperimen, dengan menggunakan gundu sebesar 1 cm dan bola raksasa sebesar 4 meter (400 kali lebih besar). Silakan lempar, tendang, tembak dengan meriam atau apapun caranya sehingga gundu 1 cm itu bisa pas menutupi bola raksasa 4 meter. Barulah orang sadar, bahwa semua itu hanya teori matematika berdasarkan asumsi di atas asumsi, yang tak bisa diterapkan di alam nyata.​
(Buktikan dengan eksperimen. Silakan lempar, tendang, tembak dengan meriam atau dengan cara apa saja, sehingga gundu 1 cm bisa pas menutupi bola raksasa 4 meter).
“Sains modern” sengaja meninggalkan metoda saintifik eksperimen dan menggantinya dengan berbagai foto CGI yang mudah dimanipulasi.
5. BUKAN DEBAT ADU TEORI
Teori adalah buatan manusia, wajar-wajar saja jika orang salah dalam membuat teori. Kami adalah rakyat, tidak berkewajiban untuk mengarang teori. Kami tidak berkewajiban untuk membuat semua orang percaya pada Bumi Datar.
Segala pemaparan dan pengkajian yang kami lakukan karena sadar ada kebohongan yang diterapkan dalam sistem, termasuk sistem pendidikan formal. Logical framework-nya adalah “sadari dulu kebohongan, baru berusaha mencari kebenaran“. Kami tidak memiliki beban jika pemahaman kami salah, sebab kami tidak makan dari dana riset pemerintah dan kami bersikap terbuka (open mind) dengan berbagai temuan-temuan baru yang masuk akal.
Sebaliknya, jika teori Bumi Bola yang mengelilingi matahari itu salah – lewat metoda pengukuran dan eksperimen – berarti ada skandal triliunan Dollar selama 50 tahun terakhir yang dilakukan oleh NASA (bentukan Elite Global tahun 1958 Masehi) serta para kontraktor terbesarnya (perusahaan-perusahaan Elite Global seperti Jacobs Engineering Group, SpaceX, Raytheon, Northrop Grumman, SGT, Lockheed Martin/Boeing JV dan lain-lain). Berarti biaya telekomunikasi harusnya tidak semahal ini. Berarti hutang rakyat di seluruh dunia harusnya tidak sebesar ini.
Oleh sebab itu, kami memandang soal Flat Earth (Bumi Datar) vs Globe Earth (Bumi Bola) ini bukan memperdebatkan teori mana yang paling benar, melainkan fokus pada kebohongan sistem yang zalim, terserah bentuk Buminya apa.
6. TIDAK MENGKRITIK
Kami tak pernah mengkritik institusi LAPAN, karena paham bahwa semua orang hanya mengikuti sistem yang diterapkan secara global. Kritik kami hanya terfokus pada NASA dan Elite Global. Pekan lalu, beberapa member dari forum kami atas inisiatif pribadi menghadap Bapak dengan sangat santun, untuk “menanyakan” perihal perhitungan matematika gerhana. Mereka tidak berdebat sama sekali, tidak mengkritik, meski Bapak tidak menjawab fokus pertanyaan melainkan berkisah panjang lebar tentang hal-hal lain yang tidak ditanyakan.
Namun, setelah pertemuan tersebut, justru Bapak yang secara terbuka menyebut kami sebagai “Penggemar Dongeng Khayalan Flat Earth (Bumi Datar)” lewat berbagai publikasi. Oleh sebab itu kami menanggapi lewat Surat Terbuka ini, agar masyarakat bisa menilai sendiri, siapa diantara kita yang “Penggemar Dongeng Khayalan”.
7. BENTURAN KEPENTINGAN
Kami memahami bahwa berkembangnya kesadaran akan Flat Earth (Bumi Datar) tanpa sengaja mengakibatkan benturan kepentingan dengan LAPAN yang hidup dari anggaran negara sebesar 700 Miliar rupiah per tahun dan sedang giat berusaha agar mendapat anggaran 1 Triliun rupiah per tahun [8] dengan mengedepankan pemahaman bentuk Bumi Bola (Globe Earth/”GE”).
Kalau sudah menyangkut “kepentingan”, sudah pasti bias obyektivitasnya. Oleh sebab itu, kami sama sekali tidak terkejut sekiranya orientasi Bapak lebih pada faktor kepentingan ketimbang keilmuan.
8. MENGGUGAT JARAK DIAMETER KECEPATAN BULAN DAN MATAHARI
Kosmologi “Sains Modern” dibuat di atas rumus matematika tanpa eksperimen, hanya berdasarkan asumsi di atas asumsi, ditunjang dengan animasi tanpa skala. Semua berawal dari asumsi jarak dan diameter bulan dan matahari yang dihitung oleh Aristarchus of Samos 2300 tahun lalu [9]. Itu sama sekali bukan “Sains Modern”. Darisitu, dihitung jarak dan diameter planet-planet, bintang-bintang, galaksi dan lain-lain berdasarkan indikasi terangnya cahaya [10].
Serial video kami Flat Earth 101 Episode 11 “Realitas Flat Earth” telah membahas bagaimana cara menghitungnya, sekaligus menunjukkan secara detail di bagian mana kesalahan fatal pada asumsi-asumsi dasarnya tersebut [11].
Selama ini orang tidak menyadarinya, karena memang tidak tahu bagaimana cara menghitung diameter dan jarak bulan dan matahari.
● Diajarkan pada kami bahwa bumi berotasi dengan kecepatan 1,670 km/h. Darimana angka tersebut didapatkan?
– Asumsi panjang keliling bumi bulat 40,075 km. Dibagi saja dengan 24 jam. Maka didapatlah angka rotasi bumi 1,670 km/h. Hanya rumus matematika teoritis berdasarkan asumsi. Padahal tak ada satupun orang yang merasa bahwa bumi bergerak.
● Diajarkan pada kami bahwa bulan mengorbit bumi dengan kecepatan 3,683 km/h. Darimana angka tersebut didapatkan?
– Asumsi jarak bulan dan bumi (384,400 km) dianggap jari-jari x 2 x 22/7 (=keliling) dibagi periode orbit bulan (27.32 hari) dibagi lagi 24 jam. Maka didapatlah angka kecepatan orbit bulan 3,686 km/h. Hanya rumus matematika teoritis berdasarkan asumsi.
● Diajarkan pula kepada kami bahwa bumi mengorbit matahari dengan kecepatan 108,000 km/h. Darimana angka tersebut didapatkan?
– Asumsi jarak bumi dan matahari (149.6 juta km) dianggap jari-jari x 2 x 22/7 (=keliling) dibagi 365 hari dibagi lagi 24 jam. Maka didapatlah angka kecepatan orbit bumi 108,000 km/h.
Ketiga hal yang dihitung sendiri-sendiri dan tanpa eksperimen itu, jika digabung hitungannya, terbukti secara matematis tidak bisa menghasilkan siklus gerhana.
9. SIKLUS GERHANA
Silakan Bapak buka web resmi NASA tentang gerhana disini yang secara jelas dan nyata NASA menulis :
“The periodicity and recurrence of eclipses is governed by the Saros cycle, a period of approximately 6,585.3 days (18 years 11 days 8 hours)“.
Siklus Saros adalah metoda yang dibuat oleh bangsa Babylonia Kuno ribuan tahun lalu [12], dengan asumsi bumi diam tak bergerak.
NASA, lembaga antariksa dengan anggaran US Dollar 19.3 miliar [13] atau sekitar 257.6 Triliun rupiah per tahun, yang mengaku sudah pernah 6 kali mengirim manusia ke bulan semuanya di era Presiden Amerika bernama Richard “Watergate Scandal” Nixon, terbukti tak mampu menghitung siklus gerhana dengan menggunakan jarak kecepatan diameter bumi bulan matahari. Oleh sebab itu NASA masih menggunakan siklus Saros yang dibuat bangsa Babylonia Kuno ribuan tahun lalu.
Bertolak belakang dengan sikap Bapak sebagai Kepala LAPAN yang bersikeras bahwa NASA tidak gunakan siklus Saros, akademisi Matt Marker yang merupakan London Mathematical Society Popular Lecturer dan sudah mencoba sendiri menghitung matematika gerhana, dengan jujur mengatakan bahwa perhitungan matematika gerhana mustahil dilakukan dan “untung ada siklus Saros” [14].
Mengapa NASA dan para saintis tak mampu menghitung siklus gerhana?
Karena jarak kecepatan diameter bumi bulan matahari yang selama ini diajarkan dibangku-bangku sekolah itu MEMANG SALAH BESAR, tidak sesuai dengan fenomena alam nyata. Hanya rumus matematika teoritis tanpa eksperimen, yang ditunjang dengan animasi-animasi tanpa skala.
Bapak tentu akan terus berdalih bahwa gerhana matahari bisa dihitung dengan asumsi Heliosentrik. Untuk menghindari debat kusir, maka kami mengajukan Intellectual Challenge ini. Coba Bapak tunjukkan angka perhitungannya, dan simulasikan dalam model software yang bisa diverifikasi oleh publik secara transparan.
10. TANTANGAN UNTUK MENGHITUNG SIKLUS GERHANA
Mari kita hentikan debat kusir teori kualitatif-normatif yang tak akan pernah selesai. Mari lakukan pembuktian saintifik yang sesungguhnya, dengan menggunakan pengukuran dan eksperimen. Tak perlu bahas 1001 teori. Ruang lingkupnya kita batasi pada satu hal saja yakni Perhitungan Matematika Gerhana.
Silakan Bapak pilih 3 kali gerhana matahari dan 3 kali gerhana bulan yang ditulis dalam web resmi NASA [15].​
Silakan Bapak hitung sendiri interval di antara ketiga gerhana tersebut, masing-masing intervalnya berapa hari, berapa jam, berapa menit dan berapa detik.​
Silakan Bapak gunakan dogma diameter jarak kecepatan bumi, bulan dan matahari yang selama ini dipropagandakan. Masukkan semua variasi dan variabel termasuk sudut, eliptikal dan lain-lain. Jangan sampai ada alasan yang tertinggal.
Silakan Bapak buktikan bahwa angka-angka yang dipropagandakan oleh “Sains Modern” itu bisa menghasilkan 3 kali gerhana matahari dan 3 kali gerhana bulan, seperti yang ditulis pada situs resmi NASA. Output atau deliverables-nya kita batasi pada :
● Angka berikut rumus posisi bumi bulan matahari menghubungkan ketiga gerhana (metoda saintifik “pengukuran”) dan…
● Model simulasi (metoda saintifik “eksperimen”) dengan menggunakan software netral seperti Cinema 4D sesuai data dan angka-angka yang Bapak hitung.
(buat kalangan flat earthers yang biasa riset & eksperimen tanpa dana pemerintah, membuat model selestial dengan menggunakan data-data sains yang dimasukkan dalam program software umum & netral seperti Cinema 4D adalah hal yang biasa)
Silakan Bapak publikasikan perhitungan matematis dan model simulasi tersebut setidaknya di blog pribadi Bapak yang bisa diakses dan diverifikasi oleh publik.
Disinilah kebenaran akan terbukti, dan kebohongan 500 tahun akan terbongkar.
● Jika menghitung 3 kali gerhana saja tidak bisa, bagaimana bisa pergi ke bulan?
● Jika menghitung 3 kali gerhana saja tidak bisa, berarti proyek-proyek angkasa luar tak lebih dari sekadar “Dongeng Khayalan” -meminjam istilah Bapak.
11. KEJUJURAN AKADEMIS
Mari kita junjung tinggi asas kejujuran akademis. Kami sudah mengantisipasi upaya Bapak untuk berkelit, misalnya dengan mengatakan bahwa “Hitungan gerhana matahari rumit rumusannya untuk dipahami orang awam (bagi yang berminat, rumusan yang disederhanakan bisa dilihat di buku Astronomical Algorithm oleh Jean Meeus)” – kalimat Bapak [16].
Merujuk buku lain supaya seolah-olah perhitungan gerhana sudah pernah dilakukan, padahal buku Astronomical Algorithm yang dirujuk tersebut cuma berisi teori matematis posisi benda-benda langit, sama sekali tidak menghitung pergerakan dari gerhana yang satu ke gerhana lainnya.
Bertolak belakang dengan sikap Bapak sebagai Kepala LAPAN yang seolah-olah menghitung gerhana adalah hal yang biasa, akademisi jujur seperti Prof. Dr. Paul Doherty dari M.I.T. yang paham pentingnya “Eksperimen Dengan Model Nyata” – bukan cuma rumus matematika di atas kertas seperti buku milik Jean Meeus – dengan jujur mengatakan “jika Anda paham betul skala tata surya, Anda akan sadar betapa langkanya fenomena gerhana matahari total” [17]. Padahal ia baru bicara soal skala diameter dan jarak, belum memperhitungkan kecepatan dan sudut eliptikalnya.
Let’s make it clean and clear, Pak. Pilih 3 kali periode gerhananya, hitung angkanya, masukkan dalam model software umum yang netral, publikasikan hasilnya. Very simple. Tak perlu bahas soal lain, sebelum “soal sederhana” ini tuntas.
12. NOTHING PERSONAL
Dalam dunia keilmuan, sebuah “Intellectual Challenge” adalah hal yang biasa. Intellectual Challenge yang kami ajukan ini tidak bermaksud untuk menjatuhkan. Semata-mata untuk mencari kebenaran. Nothing personal.
Kami menunggu dan senantiasa memantau respon Bapak berupa perhitungan matematis dan model software simulasinya, dan siap untuk menanggapinya kembali hingga tuntas.
Terima kasih, semoga Bapak senantiasa sehat dan sukses selalu.
“Truth will come to light”
– William Shakespeare
Salam hormat,
Admin FE101 Forum. (fe)


Facebook.com/ACEHKU.AGARARAKU

Share this

Related Posts

Latest
Previous
Next Post »